Bonjol, Sumatera Barat

Salah satu pintu masuk Pasaman adalah Bonjol, kabupaten paling utara di Sumatera Barat. Bonjol merupakan daerah tertinggal, sehingga perjalanan dari Bandara Internasional Minangkabau hanya dapat ditempuh dengan elf, yang ditempuh sekitar 5 jam perjalanan. Akses jalanan yang cukup sulit, ditambah supir elf yang mengendarai dengan kecepatan tinggi, cukup menimbulkan ketegangan.

Foto bersama anak-anak dan majlis guru di SD Bonjol

Kondisi Bonjol 
Suasana pedalaman sangat terasa, ketika mulai memasuki Kabupaten Bonjol. Hamparan sawah membentang, hutan berkerumun menyambut kedatangan pengunjung. Kegiatan ekonomi masih menggeliat, terlihat dari kondisi penduduk Kabupaten Bonjol yang sebagian besar masih bergantung pada sektor pertanian dan perkebunan. Hal ini, menjadi salah satu faktor rendahnya tingkat keterbacaan siswa di Kabupaten Bonjol. Terbukti dari 26 Sekolah Dasar, hanya sekitar 6 sekolah yang masih memiliki perpustakaan.

Minim Akses Buku 
Minimnya akses buku di tanah kelahiran Tuanku Imam Bonjol ini, menarik perhatian kami untuk melaksanakan Project BFM ke 14. SDN 08 Ganggo Mudiak dipilih sebagai sekolah rujukan kami. Berbeda dengan sekolah di kota-kota besar, kondisi SDN 08 Ganggo Mudiak sangat memprihatinkan. Dari empat gedung sekolah, hanya satu gedung yang telah berlantai keramik. Tiga gedung lainnya masih berlantai semen. Selain itu, akses menuju SDN 08 Ganggo Mudiak juga tidak mudah. Kami diharuskan menyebrangi jembatan gantung sepanjang 80 meter dan melewati jalanan berbatu yang membelah perkampungan.

Ruang Berdebu 
SDN 08 Ganggo Mudiak ini pernah menerima bantuan alat-alat peraga pelajaran. Akan tetapi, alat peraga tersebut tidak dipergunakan secara maksimal, sehingga hanya menjadi saksi bisu yang berdebu di sudut ruang UKS. Atas izin kepala sekolah, kami merubah ruang berdebu itu menjadi perpustakaan sederhana.

Anak-anak semangat membaca buku yang kami bawa untuk perpus sekolah mereka

Ini dia kakak-kakak volunteers yang datang ke Bonjol membawa misi mulia

Semangat Anak-Anak 
Siswa-siswa SDN 08 Ganggo Mudiak menyambut kami dengan raut pengharapan. Senyum-senyum bahagia, semakin memacu kami untuk menciptakan perpustakaan yang menarik. Menyenangkan membersamai mereka, bermain dan belajar . Meskipun sekolah dimulai dari pagi hingga siang hari, mereka menjalaninnya dengan penuh semangat. Bahkan sepulang sekolah anak-anak pergi mengaji. 

Kelas edukatif di sore hari bersama anak-anak Bonjol

Minus Gadget 
Berada di daerah pedalaman, membuka mata kami tentang generasi bangsa yang masih buta gadget. Sebagian besar anak-anak Ganggo Mudiak tidak memiliki handphone, bahkan belum mengenal. Akan tetapi, hal ini justru memelihara hubungan interaksi anak-anak di Ganggo Mudiak. Berbeda dengan anak-anak perkotaan yang sibuk bermain dengan gadget masing-masing, sehingga satu sama lain tidak saling mengenal. Harapan kami, semoga dengan adanya perpustakaan dapat menambah keilmuwan dan wawasan baru kepada anak-anak di Bonjol, serta mengantarkan mereka ke dalam dunia imajinasi yang baru.