Asahan, Sumatera Utara

Sekitar Februari 2012, kami mendaratkan kaki kami di desa Sidorukun, Asahan, Sumatera Utara. Kami harus melewati perkebunan sawit dan karet untuk akhirnya sampai ke sebuah desa dengan mayoritas penduduk adalah transmigran dari Pulau Jawa. Desa kecil dengan rumah-rumah berderet mengelilingi lapangan besar yang dipenuhi dengan ranjau kotoran sapi. Kami tinggal di sebuah bangunan reyot yang awalnya tanpa penerangan, tidak berplafon, tapi cukup untuk tidur bersama dalam karung-karung berbahan parasut yang kami sebut sleeping bag.

Kamar mandinya terletak di luar, dua kamar mandi untuk ber-empat belas, bak-baknya kosong, tidak berair, karena baru saja selesai dibangun, sekitar dua meter dari situ terdapat bak penampungan kecil, kirakira 0.16 m3 volumenya, dengan usaha penghematan air, kami diwajibkan untuk mandi dengan seember kaleng cat besar dengan setengah botol air minum sebagai gayungnya.

Kadang jika orang desa melihat, mereka mungkin akan bertanya-tanya kenapa anak-anak dari kota ini ingin jauh-jauh datang dan hidup sangat susah disini. TAPI, SERIUS, KEGIATAN MANDI INI SUNGGUH SERU! Kita jadi tahu kalau ternyata air seember kaleng cat besar itu cukup untuk sekali mandi.


membuat origami

belajar di tengah kelapa sawit


Kegiatan yang kami lakukan cukup beragam. Mulai dari mendata dan menata buku-buku yang disumbangkan untuk sekolah, menghias perpustakaan dengan anak-anak, membaca, menggambar dan mewarnai, bermain keliling kebun sawit, dan menari randai.

Tarian randai sebenarnya berasal dari Sumatera Barat, tetapi kami tertarik mengangkatnya karena seni ini menggabungkan musik, tari, drama, dan silat. Anak-anak yang ikut bisa beragam, sehingga secara tidak langsung kami mengakrabkan anak-anak dari “geng” yang berbeda-beda.

latihan tari randai


Ada seorang anak yang menjadi objek bully di sekolah. Dia tidak bisa membaca padahal sudah duduk di bangku kelas 5 SD. Teman-teman dan guru menganggapnya bodoh, bahkan orang tuanya sendiri menganggap anak ini tidak bermasa depan. Secara tidak sengaja, kami mendengar dia bersenandung pelan sewaktu bermain di pondokan kami. Wah, ternyata ia bisa bernyanyi dengan sangat merdu!

Dengan sedikit memaksa, akhirnya kami angkat dia menjadi penyanyi untuk tari randai. Latihan menari randai pun kami sengajakan di pekarangan-pekarangan rumah di tengah-tengah kampung. Kami berpindah-pindah tempat sampai akhirnya berakhir dengan latihan di pekarangan rumahnya. Masyarakat kampung dan juga orang tua si anak berdiri berkerumun menonton.

Tarian randai dibuka dengan pantun oleh pemimpin tarian, seorang siswa kelas 3 SD, sementara para penari duduk melingkar mengenakan sarung. Kemudian penyanyi lalu muncul bernyanyi dan menggiring para penari bergerak serempak. Hep Tah Tih... lalu semua penari menepuk sarungnya dalam tempo yang sama.

Setelah latihan randai selesai, orang tua si anak kemudian datang mendekati kami dan dengan haru bercerita kalau ia bangga dengan anaknya sendiri. Tidak ada yang tahu kalau suaranya semerdu itu.

***

Di hari terakhir kami di Desa Sidorukun, kami pun membuka perpustakaan untuk para orang tua murid dan warga desa lainnya. Setiap anak lalu sibuk memamerkan hasil gambar karya mereka yang dipajang di dinding perpustakaan, atau bahkan gambar yang mereka corat-coret di dinding, lalu setelah itu mereka berlari ke rak buku dan menunjukkan buku favorit mereka kepada orang tuanya.

Tujuan kami memang ingin membuka perpustakaan dengan image yang menyenangkan. Tidak lagi seperti perpustakaan yang kami kunjungi ketika masih sekolah dasar yang muridnya diajar untuk diam di dalam, membaca dengan tenang, dan tidak boleh mencoret-coret di dinding.

Kalau kami juga boleh kembali ke masa kecil, mungkin kami juga akan gebrak meja dan bilang “Umur kami masih 10 tahun, kami tidak mau duduk diam, kami mau mewarnai, kami mau berlarian, kami mau menari lalu bernyanyi-nyanyi yang kencang, kami senang, dan jangan matikan daya kreatif kami, imajinasi kami terlampau jauh, dan itu cara kami belajar”

pameran karya

perpustakaan mereka