Belu, Nusa Tenggara Timur

SDK 1 Buitasik
SDK 1 Buitasik adalah sebuah sekolah dasar yang terletak di Desa Bakustulama, Kecamatan Tasifeto Barat, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT). Sebuah Sekolah Dasar yang terletak di perbatasan Indonesia dan Timor Leste. Jumlah siswanya kini tidak sebanyak dahulu karena sudah terbagi dengan sekolah baru yang belum lama ini telah didirikan. Siswa-siswa tersebut berasal dari kampung-kampung yang tersebar di sekitar sekolah. Tidak sedikit siswa yang tinggal di kampung dengan jarak cukup jauh dari sekolah.
Butuh sekitar 40 menit berjalan kaki melalui jalanan berbatu dan berdebu untuk sampai ke sekolah. Ada juga yang harus berjalan membelah hamparan sawah dengan membawa serta jerigen air untuk keperluan mencuci tangan dan urusan buang air. Di sekolah tidak ada sumber air bersih yang bisa digunakan karena satu-satunya sumur di sekolah tidak lagi mengeluarkan air.
Menjadi sebuah pengalaman yang luar biasa ketika berpapasan dengan anak-anak yang penuh semangat dan tawa bergegas ke sekolah meskipun peluh membanjiri wajah mereka, menyapa kami di jalan. Dengan posisi tubuh agak condong karena beban jerigen air, kaki-kaki kecil mereka yang beralaskan sandal dan beberapa tak memakai alas kaki berjalan beriringan menuju sekolah.
SDK Buitasik sebenarnya telah memiliki sebuah bangunan perpustakaan yang sekaligus ruang Kepala Sekolah. Perpustakaan tersebut memiliki cukup banyak koleksi buku, tetapi belum berfungsi layaknya perpustakaan karena selalu tekunci. Anak-anak hampir tidak pernah mengunjungi perpustakaan. Akhirnya kami mulai menjelaskan kepada para guru agar mau membuka perpustakaan setiap hari. Dengan panduan SOP Perpustakaan yang dibuat Komunitas Book For Mountain, kami kemudian meminta bantuan dua orang guru untuk menjadi penanggung jawab dan mengelola perpustakaan. Beliau adalah Bapak Yongki dan Ibu Imelda. Kami meminta Ibu Imelda dan guru yang lain untuk membiasakan anak-anak mengunjungi perpustakaan dan membaca buku terutama pada jam istirahat.
Di Kabupaten Belu, TK (Taman Kanak-kanak) dan PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) adalah hal baru. Kebanyakan anak yang baru masuk SD sama sekali belum mengenal huruf dan angka, bahkan guru harus mengajar dengan bahasa daerah (bahasa tetun) sebagai bahasa pengantar di kelas satu dan dua. Banyak pula siswanya yang belum bisa membaca sama sekali hingga kelas tiga.
Anak-anak SDK 1 Buitasik dalam project perpustakaan Belu NTT Book for Mountain

Kegiatan Bersama Anak-Anak
Kegiatan belajar mengajar dimulai pukul tujuh hingga pukul sepuluh untuk anak kelas satu dan dua, dan kelas tiga sampai kelas enam, kegiatan belajar mengajar berakhir pukul satu siang. Di sekolah, kami tidak sepenuhnya mengambil peran guru. Kegiatan bersama anak-anak dimulai jam sembilan hingga jam dua belas. Selebihnya guru tetap mengajar siswa. Ketika kegiatan di perpustakaan, guru kelas juga turut serta sehingga guru juga mengetahui seperti apa kegiatan kami di perpustakaan.
Kegiatan bersama anak-anak dimulai dengan berkenalan di kelas dan mengajak anak-anak mengunjungi perpustakaan. Belajar membaca, bercerita, bernyanyi, belajar mengisi buku kunjungan perpustakaan, merapikan buku. Semua itu dilakukan agar anak-anak terbiasa, senang mengunjungi perpustakaan dan membaca.
Ketika membaca buku, ada beberapa anak yang hanya membolak-balik halaman buku, ternyata memang mereka belum lancar membaca dan masih perlu mengeja kata demi kata. Kami kemudian mendampingi anak-anak yang masih mengeja, dengan dibantu beberapa teman-teman mereka yang sudah lancar membaca untuk membantu yang belum lancar membaca.
Mengajari anak-anak untuk mengembalikan buku pada tempatnya sasuai warna label adalah hal yang cukup sulit. Namun, setelah beberapa hari anak-anak mulai terbiasa merapikan dan menaruh buku sesuai tempatnya. Bercerita juga menjadi salah satu hal yang disukai anak-anak. Dan kemudian kegiatan ditutup dengan bernyanyi.
Di waktu-waktu belajar bersama anak-anak, kami berusaha mengajarkan anak-anak mengenai apa itu korupsi dan betapa jahatnya korupsi. Anak-anak sangat bersemangat ketika diajak bernyanyi mengenai pemberantasan korupsi dan mendengarkan cerita dongeng mengenai seorang koruptor, dengan ‘bahasa’ anak-anak tentunya. Kegiatan ini kami lakukan setiap hari selama seminggu secara bergantian tiap kelas.
Kegiatan lain yang dialakukan adalah belajar tentang pola hidup bersih sehat. Masih banyak anak-anak yang pergi ke sekolah tanpa mandi dan sarapan. Bahkan banyak juga yang masih sering buang air besar di hutan atau kebun di dekat rumah. Disini anak-anak diajarkan mengenai mengapa meraka harus mandi dan sarapan, menjaga kebersihan diri, dan menerapkan pola hidup bersih sehat sedari kecil.
Pada hari Jumat, anak-anak senam bersama dari kelas satu hingga enam beserta gurunya. Setelah senam, kegiatan dilanjutkan dengan menari tebe bersama. Tebe adalah tarian tradisional yang dilakukan secara bersama-sama. Saling bergandeng tangan membentuk lingkaran, dan mulai menari seraya berputar mengikuti irama. Ada banyak variasi tarian yang dapat dilakukan. Pada setiap kesempatan, masyarakat Timor selalu menari tebe, oleh karena itu, anak-anak kecil pun sudah ahli menarikan tebe.
Untuk memeriahkan hari kemerdekaan, diadakan beberapa lomba di sekolah. Lomba menggambar dan menulis postcard yang kemudian akan dikirimkan kepada presiden. Menggambarkan peta Indonesia, dan membaca puisi.
Selain kegiatan di sekolah, kegiatan bersama anak-anak juga dilakukan di pondokan. Banyak kegiatan yang dilakukan setiap sore dan malam adalah membaca buku bersama, bercerita, dan belajar bersama. Tidak hanya anak-anak yang datang untuk membaca, tetapi banyak juga anak SMP dan SMA yang datang untuk membaca buku dan belajar bersama.
Keluarga besar SDK Buitasik mengucapkan terima kasih kepada Komunitas BFM yang telah memberikan begitu banyak buku yang membuka mimpi baru bagi anak-anak. Buku-buku tersebut telah memberikan banyak pengetahuan baru dan mimpi bagi anak-anak. Begitu banyak hal menarik yang bisa mereka dapat melalui buku, juga tempat-tempat yang cantik yang harus mereka datangi. Semoga Book For Mountain akan terus menyebarkan banyak mimpi dan harapan baru bagi anak-anak di seluruh negeri.