Bone, Sulawesi Selatan

Langit Bone selalu biru, bahkan awan pun terpola cantik meski tak beraturan. Langit malamnya juga tidak mau kalah. Selama seminggu kami serasa tidur di dalam planetarium. Ya, Bone. Kali ini tim Book for Mountain mengepakkan sayap ke tanah Sulawesi. Tujuan kami bertujuh sangatlah sederhana, ingin membawakan sepaket mimpi berupa buku kepada mereka.

***

Setelah empat jam perjalanan penuh kelok dari Makassar, mobil kami menepi perlahan memasuki Desa Bune ditandai dengan peralihan dari jalan aspal ke jalan tanah bergelombang yang menghentakkan seluruh isi mobil. Di kanan kiri terlihat rumah-rumah panggung sangat sederhana. Ibu-ibu berjejer di pinggir jalan, menggaruk hasil panen yang dijemur di atas terpal biru. Bapak-bapak mengendarai gerobak, membawa hasil rumput untuk sapi-sapi ternak.

Pemandangan sawah berganti menjadi perbukitan. Jalan tanah bergelombang berganti menjadi jalan beton menanjak. Bukit, bukit, bukit dan akhirnya kami melihat sekumpulan besar air di kejauhan. Ah, tidak jauh lagi.

Desa tujuan kami itu bernama Tompobulu. Dahulunya desa ini tak terjamah. Karena posisinya yang bersembunyi di antara bukit-bukit, apabila warga Desa Bune ingin ke Tompobulu, mereka harus mengendarai kuda selama 2 hari perjalanan. Hal ini berubah ketika pemerintah bekerjasama dengan Jepang untuk membangun Bendungan Ponre-Ponre yang letaknya persis di samping desa ini. Jalan beton dibangun untuk memfasilitasi kendaraan proyek. Jarak 2 hari berubah menjadi satu jam. Listrik pun mulai masuk, walaupun mati-nyalanya tidak konsisten.

Rumah panggung kecil menyambut hangat kedatangan kami. Dan tepat di seberang rumah panggung yang bakal jadi pondokan kami inilah, SD Kelas Jauh Tompo Bulu berada.

Ya, mereka menyebutnya sekolah. Bangunan ini sebenarnya adalah bekas warung makan yang didirikan ketika pembangunan bendungan. Karena tidak digunakan lagi, maka disulaplah bangunan menyerupai gubuk ini menjadi sekolah untuk 27 siswanya. Bangunan berukuran 6x7 meter kemudian disekat-sekat dengan papan tulis (yang terbuat dari bekas pintu) untuk mengakomodasi 5 kelas. Apabila hujan, atapnya yang bocor disana-sini itu tidak mampu lagi menaungi anak-anak dengan layak. Belum lagi dinding gedheknya yang setiap kali terkena angin akan tumbang. Tak jarang banyak sapi yang berdesak-desakan masuk kebangunan tersebut berbagi ruang dengan anak-anak sekolah untuk berteduh.

SD Kelas Jauh Tompobulu

anak-anak sedang berkumpul


Hanya ada tiga guru di sekolah ini. Sewaktu kami disana, salah satu guru sedang cuti hamil dan satunya lagi hanya masuk sejam per hari. Seringnya kalau hujan, guru-guru akan meliburkan diri padahal anak-anak sudah duduk dengan rapi di bangku sekolah menunggu guru mereka dengan baju basah kuyup akibat menembus hujan.

***

Di hari pertama kami tinggal disana, kami sadar betapa pun terpencilnya mereka tinggal, setidak-layaknya sekolah mereka, setidak-adanya buku bacaan mereka, mereka adalah anak-anak yang sangat bersemangat belajar. Belajar apapun.

Setelah jam sekolah, belum sempat kami memasak makan siang, anak-anak sudah datang lagi ke pondokan kami. “mauka belajar, Kak!”. Dengan antusias, mereka membuka buku, menanyakan gunung tertinggi di dunia, bagaimana bisa terjadi pelangi, ibukota Indonesia apa, Tompobulu ada dimana. Kegiatan di pondokan berlangsung sampai jam 10-11 malam, sampai akhirnya kami harus setengah mengusir karena kehabisan tenaga.

“Besok belajar lagi yaa, Kak!”

Jam 6 pagi, mereka sudah memanggil-manggil di pintu pondokan, “Kaaaaak... Sekolaaaah!” seperti alarm pagi untuk kami.

Ada pula dua orang anak cowok bersaudara yang selama seminggu kami disana, mereka tidak pernah pulang, bahkan tidak berganti baju dan nginap di warung sebelah sekolah. Rumah mereka cukup jauh dan sangat takut ketinggalan aktivitas bersama kami.

bersama adik-adik dengan latar bendungan ponre-ponre

bermain senam poki-poki

bermain angin ribut

wisnu

belajar origami dengan kak dita


***

“Kak, lagu Indonesia Raya itu bagaimana?”

“Yang sering dinyanyiin pas upacara bendera itu, Dek.”

Mereka lalu bergerombol berbisik-bisik. “Kak, kami belum pernah upacara bendera.”, yang membuat kami terdiam cukup lama.

“Baiklah Adek-adek, senin depan kita upacara bendera!”, diiringi teriakan kegembiraan dari mereka.

Dengan berlatarkan bendungan dan perbukitan, kami belajar dan latihan upacara bersama. Kakak BFM yang pria memiliki tugas tambahan yaitu memperbaiki dinding sekolah, membuat plank sekolah (yang akan digambari bersama adik-adik), dan membuat tiang bendera.

latihan upacara

upacara bendera pertama

upacara bendera di hari pendidikan nasional




Akhirnya, di hari terakhir kami disana yang bertepatan dengan tanggal 2 Mei 2011, Hari Pendidikan Nasional, SD Kelas Jauh Tompobulu mengadakan upacara bendera untuk yang pertama kalinya. Lagu Indonesia Raya mengalun merdu dari para peserta upacara yang disertai isak haru kami para kakak-kakak dan ibu guru. Lambang, kakak BFM yang sekaligus pembina upacara hari itu, dalam amanahnya memberikan pesan kepada adik-adik untuk terus belajar, meraih mimpi, dan kembali ke Tompobulu untuk membangun desa.

Tawa bahagia, keceriaan, alarm pagi, senam poki-poki, pemandangan indah, sungguh kami tidak ingin pulang.

mari memperluas dunia mereka

ruang sekolah


perpustakaan

buku tulis untuk adik-adik

SD Kelas Jauh Tompobulu