Bromo, Jawa Timur

Ketika pertama kali menginjakkan kaki di terminal Probolinggo untuk mengambil bison (mini bus tujuan Bromo), sopir bus bercerita kalau keadaan di Desa Ngadirejo sangatlah parah. Sudah empat bulan desa itu terkena limpahan pasir vulkanik letusan Bromo. Bangunan SD, SMP dan kantor kepala desa pun roboh karena atapnya tidak mampu lagi menanggung beban pasir vulkanik. Setiap hari turun hujan yang bercampur lumpur. Anak-anak pun kini belajar di dalam tenda.

Kami pun mempersiapkan diri menyaksikan adegan kepiluan dan kesedihan dari adik-adik di sana.

volunteer


Sesampainya kami di Desa Ngadirejo, anak-anak diajak berkumpul di lapangan sekolah yang kini tertutup pasir hitam tebal. Di belakang, bromo terus terbatuk. Di samping, gedung sekolah hanya bersisakan dinding dan runtuhan atap. Sembari berjalan keluar dari tenda terpal biru, anak-anak tidak henti-hentinya melemparkan candaan ke sesama temannya. Mereka bermain seakan tidak peduli dengan bencana erupsi yang terjadi.

Pak Gofur, kepala SD Ngadirejo, dalam sambutannya kepada kami mengatakan, “walaupun anak-anak kami belajar di dalam tenda dan diguyur siraman pasir yang tiada henti, kakak-kakak dari Jogja akan menemukan sesuatu yang luar biasa di sekolah ini...”



anak-anak berkumpul dengan latar bromo yang erupsi



Luar biasa, dua kata itu sangat pantas mewakili semua apapun yang ada di desa ini; kepala sekolah, guru-guru, anak-anak, masyarakat desa, dan pemandangan indah perbukitan Tengger.

Selama seminggu kami disana, tiap pagi anak-anak dan guru datang sejak jam setengah 6 pagi. Pak Gofur dan Pak Widoyo, guru kelas 6, yang rumahnya berjarak 2 jam dari sekolah pun rela menginap di sekolah. Semuanya ingin membersihkan pasir yang menutupi sekolah mereka terlebih dahulu sebelum memulai kegiatan belajar mengajar. Untuk lebih menikmati, sesekali mereka bermain klontengan sambil menyanyi. Tawa bahagia anak-anak sangat kontras dengan pemandangan sekitar yang hanya berwarna abu-abu suram diselimuti pasir.

Ketika memasuki jam istirahat, anak-anak pun tidak hanya sekedar bermain. Mereka mengisinya dengan latihan olahraga dan musik. Ada yang bermain voli, tenis meja, dan ada pula yang sedang latihan karawitan. Bukan, karawitan ini tidak bermodalkan alat musik gamelan lengkap, tapi hanya berupa kentongan dari kayu-kayu bekas dan beberapa galon. Dengan segala keterbatasannya itu, anak-anak tim karawitan ini tetap semangat menyanyikan lagu ciptaan mereka sendiri, “Naga, naga bentara... dari desa Ngadirejo...”.

bermain voli

bermain karawitan


“Grup karawitan ini sering diundang manggung dimana-mana”, ujar guru-guru sambil tersenyum bangga. Ah, kami pun akan sangat bangga kalau menjadi guru mereka.

Grup Karawitan ini dipimpin oleh Akas yang bertugas menggebuk drum galon, sesekali ia mengajar beberapa anak (dan juga kami) dengan penuh kesabaran. Keoptimisannya selalu menjadi motivasi bagi teman-temannya untuk terus latihan dan menjadi grup yang lebih baik. Selalu bertanggung jawab serta keinginannya untuk terus melakukan yang terbaik, membuat Akas juga dipercaya menjadi pemimpin grup teater dan tari SD Ngadirejo. Hingga SD yang terletak di pedalaman kabupaten Probolinggo ini menjadi Juara 2 Teater se-kabupaten.

Ada lagi Karco "Lintang dari Lereng Bromo", anak yang rumahnya paling jauh dari sekolah. Setiap hari dia berangkat jam 4 pagi menempuh perjalanan 5-6 km naik turun bukit, melewati 2 sungai dan tiba paling awal di sekolah bahkan sebelum pintu sekolahnya dibuka. Sesampainya di sekolah, tanpa perintah dan aba-aba ia mengambil sekop dan lalu dengan lincahnya membersihkan sekolah. “Sekolah ini kan rumah kedua saya, Kak.”, katanya.

Ada lagi Suranti, Ika, Santi, Yongki, Lilik, Rendi, Arif, Yuni, Diki, Iko, Yeyen, dan masih banyak anak-anak lainnya dengan cerita yang berbeda-beda. Kalau istilahnya Pak Gofur, anak-anak ini seperti "Mutiara yang Terpendam".

Anak-anak ini ajaib.

Ketika awal Bromo erupsi dan sekolahnya ambruk ada seorang bapak dari dinas pendidikan mengusulkan untuk memperpanjang waktu libur sekolah, adik-adik ini malah protes dan meminta sekolah segera dimulai.

Kemudian di hari sekolah, seringnya guru-guru SD Ngadirejo terlalu bersemangat mengajar sampai lupa waktu dan pulangnya jadi terlambat 1-2 jam. Anak-anak tidak ada yang protes, malah terkadang meminta waktu belajarnya diperpanjang. Sampai seorang guru pernah nyeletuk "cuman di sini satu-satunya sekolah di Indonesia bahkan dunia yang tidak punya jam."


belajar di dalam tenda

paperquiling

belajar origami

menggambar bersama

perpustakaan