Merapi, Jawa Tengah

Setelah Gunung Merapi kembali tenang, para pengungsi kembali ke desa masing-masing. Kembali berbenah. Kami cukup dekat dengan pengungsi asal Desa Keningar, sehingga kami mengetahui bagaimana kondisi mereka.

 Kami berkeinginan untuk membuat perpustakaan di Merapi, di desa Keningar, 4 kilometer dari puncak merapi. Kami bertukar kontak dengan mereka dan mulai melakukan survey ke desa Keningar.

Akses jalan menuju Desa Keningar ternyata cukup rusak. Mungkin karena merupakan akses bagi kendaraan truk penambang pasir, jalan menjadi bolong disana sini. Apalagi ditambah dengan abu vulkanik yang masih menutupi jalan. Kondisi jalan menjadi tidak rata dan juga licin, beberapa kali kami sempat terjatuh dari motor kami.

Kondisi sekolahnya cukup memprihatinkan pasca erupsi. Satu ruangan roboh dan beberapa sudut sekolah perlu mendapatkan perbaikan. Sekolah ini juga belum memiliki perpustakaan. Mayoritas para orang tua adalah buruh tani ataupun penambang pasir.

adik-adik Keningar

adik-adik Keningar

adik-adik Keningar


Di saat itu kondisi keuangan kami juga memprihatinkan. Kami kemudian mencoba menggalang dana dari teman-teman terdekat dan mengirimkan proposal ke beberapa instansi untuk mendapatkan buku yang layak untuk adik-adik kami di Keningar. Dan terwujudlah perpustakaan kami yang pertama, WAROENG BUKU BFM yang pertama pada tanggal 12 Januari 2011 yang berisikan 289 buku-buku bacaan adik.

Kami menyebutnya “Waroeng Buku”. Hal ini dikarenakan kami tidak bisa memberikan banyak. Bak barang jualan warung, sedikit, tapi benar-benar yang mereka butuhkan. Pas!

Pihak sekolah kemudian bersedia menyumbangkan salah satu rak bukunya. Berbekal kuas dan cat, adik-adik kemudian beramai-ramai menghias rak buku mereka. Ada yang menggambar gunung, pohon, dinosaurus, pesawat, dan lain sebagainya. Harapannya, melihat gambar mereka sendiri di rak buku perpustakaan, adik-adik mempunyai rasa memiliki terhadap buku-buku di dalamnya.