Pulau Sebesi, Lampung

Perjalanan
Berawal dari Stasiun Lempuyangan Jogjakarta, kereta ekonomi perlahan bergerak ke arah Jakarta. Tujuan kami adalah pulau berpenghuni terdekat dengan Gunung Krakatau, terletak di Selat Sunda, bernama Pulau Sebesi. Dengan ransel seberat belasan kilogram dan kardus berukuran sedang yang penuh dengan buku, kami siap bertualang!
Sesampainya di Stasiun Senen, perjalanan kami lanjutkan kembali menuju Stasiun Tanah Abang untuk menumpangi kereta menuju Pelabuhan Merak, Banten. Perjalanan kami menuju Merak merupakan salah satu perjalanan terberat yang pernah kami alami selama ini. Selama empat jam, kami harus berdiri berdesakan dan saling injak-menginjak dengan penumpang lain di dalam kereta. Hal ini diperparah oleh semakin beratnya ransel dan kardus buku yang harus kami panggul. Setelah memimpikan rupa Pelabuhan Merak selama 4 jam, akhirnya ia di depan mata. Perjalanan pun kami lanjutkan kembali dengan menumpangi kapal feri menuju Pelabuhan Bakaheuni, Lampung.
Hari ketiga perjalanan kami dimulai dengan menumpangi kapal kayu dari Pelabuhan Canti, Lampung menuju Pulau Sebesi. Selama perjalanan, mata kami dimanjakan oleh hamparan pulau yang tersebar di atas birunya Selat Sunda, membuat kami lupa akan mabuk laut.

Kondisi Pulau Sebesi
Walaupun letaknya terbilang dekat dengan Pulau Jawa, Pulau Sebesi masih jauh dari segi kelayakan infrastruktur. Di pulau seluas 2000 hektar ini, hanya terdapat satu sekolah dasar. SD pun menjadi overloaded dengan 300 anak harus berdesak-desakan di sekolah yang kecil itu. Ruangan khusus perpustakaan pun tidak ada, sehingga kami mengambil sudut yang kosong untuk kami dan adik-adik benahi selama satu minggu. Hal lain adalah hanya ada satu buah angkutan umum di pulau ini, sehingga tiap pagi anak sekolahan harus tumpuk-tumpukan di dalam angkot atau bahkan duduk di atap mobil.
Satu-satunya SD di Pulau Sebesi kelebihan murid dalam kegiatan project perpustakaan Book for Mountain

Kegiatan
Agenda kami di Pulau Sebesi cukup sama dengan proyek sebelumnya; pagi kami berkunjung ke sekolah membenahi ruangan yang akan dijadikan perpustakaan, siang hingga malam kami bermain sambil belajar mengenal buku. Bedanya, ketika sore adik-adik selalu mengajak kami untuk memancing ikan di atas kapal.
Hal baru yang kami coba lakukan di Pulau Sebesi ini adalah kegiatan kami tidak hanya berpusat di sekolah, perpustakaan, dan di pondokan, tetapi tiap hari kami berkeliling entah di pantai, kebun atau salah satu rumah anak. Ini ditujukan untuk anak-anak yang tadinya enggan belajar bersama kami, menjadi melihat bahwa kegiatan belajar ini lebih bersifat bermain dan ternyata menyenangkan. Setelah semua anak-anak menikmati waktunya bersama kami, pelan-pelan kami sisipkan keseruan membaca buku yang tadinya momok besar bagi mereka. Apalagi setelah mereka melihat bahwa buku-buku yang kami bawa banyak gambar dan warnanya, mereka lalu tidak ingin keluar dari perpustakaan.
Kegiatan bersama anak-anak di SD Pulau Sebesi Lampung dalam project perpustakaan Book for Mountain

Pembukaan Perpustakaan
Di hari terakhir, kami mengadakan grand opening perpustakaan dengan mengundang orang tua murid dan perangkat desa. Acara dibuka dengan pagelaran seni dari adik-adik; ada yang menyanyi, membacakan puisi, drama, dan menari. Kegiatan lalu dilanjutkan dengan tur ke perpustakaan. Harapannya agar keberlangsungan perpustakaan ini nantinya tidak hanya menjadi tanggung jawab pihak sekolah dan anak-anak, tetapi juga para orang tua dan warga desa lainnya.
perpustakaan Pulau Sebesi Lampung Book for Mountain