Rinjani

Cerita ini dimulai pada 4 Juli 2010. Malam itu, 24 mahasiswa UGM dari berbagai macam fakultas berkumpul di depan Gedung Purna Budaya UGM. Pukul 21.00 berangkatlah kami dengan bus menuju lokasi KKN, Lombok Timur, Nusa Tenggara Timur. Setelah diterlantarkan oleh bus Safari Dharma Raya di entah berantah Bali, setelah menggotong tas carrier menaiki angkot menuju Padang Bai, setelah menghabiskan malam bermain poker di atas ferry menuju Lembar, setelah menaiki engkel selama 3 jam, akhirnya pada tanggal 6 Juli 2010 sampailah kami di Desa Bebidas, desa dengan ketinggian +1000 meter di atas permukaan laut, terletak di kaki Gunung Rinjani.
Perpustakaan pertama Book for Mountain di kaki Gunung Rinjani Lombok

Awal Kisah di Rinjani
KKN kami membawa misi memperbaiki sistem distribusi air bersih di Desa Bebidas. Air yang melimpah sebagai hadiah dari Gunung Rinjani kadang kala hanya digunakan untuk keperluan beberapa desa saja. Unit KKN kami bekerjasama dengan PDAM bermaksud mengadakan sosialisasi untuk pemasangan pipa dan reservoir air di desa Bebidas.
Tetapi, setelah satu minggu masa survey, ternyata warga Desa Bebidas menolak bantuan dari PDAM dan ingin sistem air mereka dikelola secara mandiri. Kami yang telah merancang program utama ini pun kalang kabut. Hampir dipastikan KKN kami akan gagal karena program utamanya tidak dapat berjalan.
Setelah melakukan rapat unit, kami pun sepakat untuk mengganti tema utama dengan tema pendidikan. Apa yang harus kami lakukan di tujuh minggu sisa masa KKN kami? Apa yang harus kami lakukan dengan tema baru yang tanpa persiapan ini? Apa yang harus kami lakukan dengan tema pendidikan, padahal hampir tiga-perempat anggota unit kami berasal dari jurusan sains?
Kami rasa ada benarnya kata orang-orang, “Kalau kepepet, otak kita jalan lebih cepat”. Dan inilah kami, yang terpaksa melahirkan bermacam-macam program “ajaib” yang pada akhirnya kami pun bersyukur program utama kami digagalkan.
anak-anak kaki Gunung Rinjani project perpustakaan Book for Mountain Lombok

Ide Pengadaan Perpustakaan
Perpustakaan bersejarah bagi kami itu terletak di SD 5 Bebidas yang terletak persis di samping pondokan kami. Dahulunya, ruangan perpustakaan itu memang ada tetapi tidak ada buku dan alat belajar sama sekali di perpustakaan tersebut. Dari situlah, salah satu dari kami kemudian secara impulsif menyarankan sebuah program kerja yaitu “pengadaan perpustakaan untuk SD 5 Bebidas”. Kami pun hanya menelan ludah, dengan kondisi yang sangat jauh dari kota, tanpa dana program, dan tanpa sinyal HP apalagi internet, apa mungkin kami mampu mengumpulkan buku?
Siang itu motor kami melaju kencang di jalan sepi antara Desa Bebidas dan Aikmel. Sesekali terlihat pick-up tua yang mengangkut rombongan pendaki yang menuju Sembalun, pintu timur pendakian Rinjani.
Sekitar 5 kilometer dari Desa Bebidas, tepatnya di seberang Pasar Aikmel terdapat satu-satunya warnet, dan itulah tujuan kami siang itu. Kami bermaksud mencari ilham untuk melaksanakan program kerja kami.
Dengan internet berkecepatan sangat terbatas itu, kami kemudian mendapatkan beberapa info penting, misalnya untuk membuat perpustakaan anak yang diperlukan selain buku-buku adalah alat pembelajaran menarik yang dapat membuat anak betah berlama-lama di perpustakaan.
Setelah membaca-baca berbagai referensi, kami menarik kesimpulan bahwa perpustakaan itu harus disulap menjadi lingkungan yang child-friendly. Dalam perpustakaan sebaiknya disediakan mainan edukasi, alat menggambar-mewarnai, buku-buku bergambar warna-warni, dan jika perlu, ruangan tersebut penuh dengan jejak anak-anak sebagai pemiliknya. Sehingga menumbuhkan sense of belonging anak terhadap perpustakaan itu.
hasil karya mewarnai anak-anak Rinjani dalam project perpustakaan Book for Mountain Lombok

Proses Pengumpulan Buku
Oke, langkah pertama adalah bagaimana mendapatkan buku-bukunya. Tersebutlah teman kami, Nurseto Nugroho dan Rachmadian Narotama yang kemudian menawarkan diri menjadi dropbox buku di Jogja. Mereka juga menyarankan untuk membuat sebuah postingan tentang anak-anak SD tersebut yang nantinya bisa disebarkan via social media. Hm…
Maka, seperti inilah foto yang kami post di akun Facebook kami masing-masing, beserta cerita tentang seorang anak bernama Ipah yang sangat mendambakan buku-buku berwarna-warni penuh ilustrasi seperti teman-temannya di kota.
Usaha lain yang kami lakukan untuk mengumpulkan buku adalah menyebarkan proposal bantuan buku kepada toko-toko buku, instansi pemerintah, dan SMP SMA yang terletak di berbagai sudut pulau Lombok. Mungkin dari 50 proposal yang kami sebar, ada 15 yang direspon, tetapi hanya 3 yang kemudian bersedia memberikan bantuan buku.
buku-buku untuk anak Rinjani dalam project perpustakaan Book for Mountain Lombok

Banyak Buku
Setelah lima minggu mengupayakan pengumpulan buku, maka tibalah minggu yang kami nanti-nantikan itu. Di awal minggu, kami mengambil bantuan buku dari tiga tempat di Mataram. Selama dua jam, kerdus TV ukuran 21 inch duduk mendominasi jok motor. Tyas dengan posisi badan hanya 25 senti dari kemudi, di tengah terdapat kardus yang penuh dengan buku, dan Niniek yang duduk di ujung terbelakang motor bebek.
Sedangkan di motor belakang ada Faquh dan Russel yang nasibnya hampir sama dengan kerdus yang lebih kecil tapi ditambah dengan gulungan set peta dunia seukuran 1.5 meter. Mampir isi bensin pun rasanya sudah tak sanggup.
Belajar dari hari itu, ketika tiba waktunya mengambil buku kiriman dari Jogja, kami pun menyewa Suzuki Carry kenalan tetangga pondokan. Dari info Seto dan Adi, ada lima kardus buku segede TV 32 inch dikirim melalui bus. Kami sebenarnya tidak ada bayangan akan sebanyak apa buku di dalam 5 kardus TV 32 inch itu.
Maka berangkatlah kami. Prima sebagai driver, Khofif dan Tyas sebagai tenaga angkat kardus serta Niniek, Iyoh dan Rusel sebagai tim penyemangat, yang pada akhirnya kami semua harus menjadi tenaga pendorong mobil butut sewaan yang sempat mogok berkali-kali.
“1535, See Inside: Habitat Alam, Penerbit …”, dikte Niniek kepada Russel yang bertugas mengetik daftar inventarisasi di laptopnya. Tidak jauh dari tim inventarisasi, Iyoh dan Tyas sibuk membuat label dengan memberi stempel KKN di atas kertas HVS lalu digunting. Di dalam kamar, ada grup penempel label yaitu Eko, Ridho, Agra dan Fakuh.
Kesibukan ini berlangsung selama empat hari, dari pagi sampai sore, hanya berhenti ketika jam mengajar buta aksara. Hingga akhirnya menurut data kami, buku yang masuk ada sekitar 3600 buku, namun hampir 500 buku adalah buku untuk siswa SMA, dan 300 buku untuk siswa SMP. Lebih 4100 buku dari target semula kami…
perpustakaan di kaki Gunung Rinjani dalam project perpustakaan Book for Mountain Lombok

Perpustakaan, Akhirnya
Akhirnya minggu itu pun tiba. Minggu itu kami akan meresmikan perpustakaan. Dari yang awalnya kami hanya berencana membantu SD 5 Bebidas, tapi dengan jumlah buku yang terkumpul kamipun bisa membantu 4 sekolah lainnya yaitu SD 2 Bebidas, SMP Ma’arif, 2 SMA di Sembalun, dan bonus 1 taman bacaan umum untuk kelas buta aksara di Dusun Otak Rarangan.
Adik-adik sudah berkumpul di depan perpustakaan setengah jam lebih awal di hari itu. Mereka juga terlihat jauh lebih bersolek dibanding biasanya. Semuanya kompak mandi pagi, baju mereka rapih, yang perempuan memakai bando dan jepitan rambut cerah. “Ini hari penting, Kak!”, kata mereka. Dalam kalimat penutupan peresmiannya, kami berteriak, “JADI ADIK-ADIK, SIAPA YANG PENGEN BACA BUKU??”. Semua adik-adik berlomba-lomba angkat tangan…