Semeru, Jawa Timur

Tidak pernah terbayangkan sebelumnya berada di sebuah tempat yang ternyata merupakan desa tertinggi di pulau Jawa. Desa yang hanya para pendaki gunung yang mengetahui. Karena desa ini berada di kaki gunung Semeru yang merupakan gunung tertinggi ke empat di Indonesia dan gunung tertinggi di pulau Jawa.

Desa yang bernama Ranu Pane itu merupakan pos pertama sebelum melanjutkan ke Ranu Kumbolo, yang merupakan danau yang indah kala matahari terbit. Seperti lukisan saat kita masih kecil, matahari terbit diapit oleh dua bukit dan dipandang dari arah danau dengan bayangan matahari yang terpantul di air danau. Indahnya! dan dengan tujuan akhir yakni puncak gunung tertinggi di Jawa yang bernama puncak Mahameru

Kali ini BFM membawa 265 buku anak yang terdiri dari buku ensiklopedi, cerita bergambar, majalah anak, serta peralatan pelengkap lainnya seperti alat menggambar mewarnai, peta dunia, dan peta Indonesia.

Delapan volunteer berangkat dari Jogja dengan modal buku yang sudah disusun rapi dalam beberapa kardus dan peralatan pribadi di dalam ransel. BFM selalu berpikir, bagaimana caranya buku sampai di tangan anak-anak, perpustakaan dibangun di sekolah dan menggunakan biaya transportasi dengan harga semurah mungkin.

Oleh karena itu, kereta api ekonomi merupakan pilihan tepat sebagai transportasi yang diambil untuk menekan biaya transportasi walaupun harus berpindah-pindah. Yogjakarta-Surabaya-Malang. Tidak hanya cukup sampai disitu, dari Malang kita melanjutkan perjalanan ke pasar Tumpang dengan menggunakan angkot. Dari pasar Tumpang, kami menumpang truk-truk sayur untuk naik ke atas kaki gunung Semeru.

Setelah dua hari perjalanan, tibalah kami pada hari Sabtu sore di desa Ranu Pane yang indah. Sebuah desa terpencil dikelilingi oleh bebukitan yang tertutup oleh tanaman bawang pre dan kubis. Kami tidak membayangkan ternyata desa ini sangat dingin. Bahkan masyarakat lokal hanya mandi satu kali dalam sehari yakni sekitar pukul 14.00 WIB. Karena dinginnya cuaca, saat siang hari di dalam rumah sekalipun, kami mesti memakai kaus kaki, sarung tangan, dan jaket. Tapi itupun masih terlalu dingin bagi kami. Hasilnya setengah dari kami pun tumbang sakit.

Begitu banyak tantangan yang dihadapi saat menjalankan program di desa ini, salah satunya misskomunikasi yang fatal yaitu ternyata ada satu hal penting yang lupa disampaikan bapak kepala desa kepada kami, bahwa kedatangan kami bertepatan dengan hari raya Karo. Hari raya dimana setiap orang di desa itu saling berkunjung ke rumah tetangganya untuk bersilahturahim. Dan yang lebih mengejutkan lagi walaupun hari raya Karo hanya satu hari, tapi anak-anak akan meliburkan diri dari sekolah selama satu minggu. Kalau sekolah yang bersifat wajib saja mereka tidak mau hadir, bagaimana dengan nasib kegiatan kami?

Jauh sudah jalan yang kami tempuh, maka pantang pulang sebelum perpustakaan kecil dibangun dan materi kreatif disajikan kepada para murid. Kami berpikir bagaimana caranya liburannya anak-anak SD Ranu Pane hanya satu hari saja. Akhirnya kami ke rumah anak-anak satu persatu dan membujuk untuk datang ke sekolah ikut berkegiatan dengan kami, meskipun hanya 2 jam saja setiap harinya.

bermain lingkaran angin


Di hari lain, kami membuka sebuah ruangan tua di sekolah yang konon adalah perpustakaan. Didalamnya kami melihat sangat banyak buku menarik dan majalah untuk anak-anak. Namun sayangnya berdebu. Menurut guru di sekolah tersebut, perpustakaan sudah lama tidak dibuka semenjak ruang perpustakaan rusak karena tertabrak oleh mobil. Rak buku dan buku yang berdebu kami keluarkan, kemudian kami perbaiki kembali dengan memasang kembali baut-baut pada sisi bagian rak.

Karena ruangan perpustakaan yang lama jauh dari kata layak, rak buku kemudian kami pindahkan ke mushala yang berada di samping sekolah. Mushala itu kami bersihkan, dan kami pasangi karpet agar anak-anak membaca buku dengan nyaman.

perpustakaan ranu pane

bermain sambil belajar

membacakan buku ensiklopedia


Setelah berhari-hari membujuk, akhirnya terkumpullah sekitar 20an anak bermain dan membaca di dalam perpustakaan. Tidak semua memang, tapi kami berharap adik-adik ini bisa mengajak teman nantinya.

volunteer asal italia yang menceritakan tentang kehidupan masyarakat dari benua eropa

mari memperluas dunia mereka


Permasalahan cukup kompleks juga terdapat di sekolah ini, tidak ada guru PNS yang tinggal di desa Ranu Pane. Guru PNS berdomisili di Lumajang yang jarak tempuhnya lebih kurang 1,5 jam dari Ranu Pane dengan kualitas jalan yang sangat jauh dari kata layak. Sehingga hal ini lah yang menjadi penyebab para guru “sengaja” dibagi menjadi beberapa shift. Misalnya 2 orang di hari Senin dan Selasa, 2 orang di hari Rabu dan Kamis, dan 2 orang di hari Jumat dan Sabtu. Ternyata inilah awal mula ketidakpercayaan para orang tua murid dengan guru-guru. Bersekolah dinilai sia-sia, orang tua kemudian lebih menyukai anaknya tinggal membantu di rumah, dan mengorbankan pendidikan bagi anak-anak yang memang tidak mengerti apa-apa.

perpustakaan ranu pane