Teluk Bintuni, Papua Barat

Area Teluk Bintuni sudah lama menjadi impian kami untuk melaksanakan project perpustakaan. Namun, dana untuk memberangkatkan delapan volunteer selalu menjadi masalah.
Kami pun bersyukur ketika salah satu volunteer akan berangkat KKN selama dua bulan di Desa Yakati dan Desa Yensei, Kecamatan Wamesa, Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat. Kerjasama lalu terjalin, BFM sebagai penyedia buku dan materi, sedang tim KKN yang akan bertugas sebagai pelaksana di lapangan. Oleh BFM, tim KKN pun diberi pelatihan tentang materi perpustakaan, edukasi, serta tips trik mendekatkan anak-anak dengan buku melalui cara yang menyenangkan. Harapannya, buku-buku nantinya tidak cuma memiliki nilai fisik tapi juga nilai manfaat bagi adik-adik di Teluk Bintuni. Akan lebih menyenangkan lagi kalau akhirnya membaca menjadi hobi baru yang akan bertahan lama untuk adik-adik di sana.
KKN UGM Teluk Bintuni Papua Barat Project Perpustakaan Book for Mountain

Perjalanan
Lalu datanglah hari keberangkatan, tim KKN akan menempuh tiga hari perjalanan darat laut udara untuk sampai ke lokasi. Perjalanan dimulai dengan menumpangi pesawat dari Jogja ke Surabaya, lalu ke Makassar, kemudian ke Sorong, dan berakhir di Bandara Rendani Manokwari. Perjalanan kemudian dilanjutkan dengan mobil menuju Kabupaten Teluk Bintuni. Dari pelabuhan Teluk Bintuni, tim KKN kemudian terbagi 2, Tim Yakati dan Tim Yensei, yang keduanya akan menaiki kapal ketinting berbeda. Dan dari titik ini pula lah, sinyal HP mulai hilang seiring dikayuhnya kapal ke pulau masing-masing.
Perjalanan Book for Mountain menuju lokasi project perpustakaan Teluk Bintuni, Papua Barat melewati pinggir pantai

Desa Yakati
Desa Yakati bertempat di sebuah pulau tersendiri. Jarak antara kota kabupaten dan Desa Yakati sekitar 50 Km dan hanya bisa di tempuh dengan jalur air dalam waktu sekitar 9-11 jam, tergantung pasang surut air laut. Tim KKN cukup beruntung karena seringnya kapal tidak sampai menepi ke pulau akibat terjebak lumpur.
Di desa Yakati, terdapat satu SD yang bergabung bersama SMP (satu atap) dengan kondisi yang cukup tidak layak. Kayu sudah keropos, ruangan gelap, dan terasa lembab. Terdapat lima ruangan di SD berpenghuni 50 siswa ini, kelas 3 dan kelas 4 digabung ke dalam satu ruangan.
SD Yakati Teluk Bintuni Papua Barat dalam project perpustakaan Book for Mountain

Keadaan sekolah yang tidak memadai ini ditambah lagi dengan tenaga pengajar yang malas-malasan. Kadang masuk mengajar, kadang cuma ingin di rumah. “Toh bos saya di dinas pendidikan tidak akan mengecek hingga ke pulau pedalaman ini”, mungkin begitu pikirnya. Sedihnya, tim KKN menemukan banyak siswa kelas 5 yang belum bisa membaca dan berhitung.
Karena dinilai keberlangsungan perpustakaan akan “berbahaya” di tangan tenaga pengajar SD ini, kelas 5 dan kelas 6 di-“kader” untuk menjadi pengurus perpustakaan. Di tangan adik Skondar, Desy, Daud, dan Merios, semoga perpustakaan ini menjadi tempat nongkrong paling asik bagi adik-adik SD Desa Yakati.
lemari perpustakaan di SD Yakati Teluk Bintuni Papua Barat project Book for Mountain

Desa Yensei
Jarak Desa Yensei sedikit lebih jauh dari kota kabupaten dibandingkan dengan Desa Yakati. Akan tetapi, sebagai tanah kelahiran Sekda Papua Barat, Desa Yensei sedikit lebih beruntung. Rumah-rumah jelas tampak lebih mumpuni, kualitas jalan lebih bagus, dan fasilitas desa lebih layak.
Sayangnya, kemajuan ini tidak diikuti dengan kualitas pendidikannya. Dari segi fisik dan dari segi minat bersekolah, desa ini jelas lebih tertinggal jauh dari Desa Yakati. Di SD Yensei hanya terdapat 36 siswa, dan itu pun tidak semuanya aktif bersekolah.
SD Yensei Teluk Bintuni Papua Barat dalam project perpustakaan Book for Mountain

Tidak ada ruangan kosong di SD ini, sehingga tim KKN membuat sebuah rak buku dan menaruhnya di salah satu sudut ruangan kelas. Beruntungnya, salah satu guru bantu bernama Pak Yacob sangat kooperatif dan berinisiatif untuk membantu menjaga keberlangsungan perpustakaan kecil ini.
Anak-anak SD Yensei Teluk Bintuni Papua Barat project perpustakaan Book for Mountain