Sekolah Darurat Merapi

Bulan Oktober 2010, Jogja kembali menangis. Sepertinya belum lama dia berduka saat gempa besar mengguncangnya, tahun 2006 lalu. Ya, kali ini giliran Merapi yang membuat Jogja kembali menangis.

Tidak kurang dari 3 bulan Merapi terus-menerus menyemburkan lava pijar. Ini membuat puluhan ribu orang mengungsi, ribuan orang kehilangan rumah dan mata pencaharian. Juga, puluhan orang meninggal dunia saat terjadi puncak letusan.

Sewaktu itu kami melihat orang berbondong-bondong mengungsi dalam keadaan panik, orang-orang tidur di tenda-tenda pengungsian berlindung dari dinginnya malam dan hujan debu abu vulkanik yang terus menerus turun. Akibat peristiwa itu juga, aktivitas ekonomi, perkantoran dan transportasi umum di sekitar Merapi sempat lumpuh selama berminggu-minggu.

Tanpa banyak bicara, kami dari BFM segera berkumpul memikirkan langkah apa yang bisa kami lakukan sesegera mungkin. Maka, kami pun memutuskan untuk membuat perpustakaan keliling bagi anak-anak yang berada di pengungsian. Kenapa perpustakaan keliling?

Pertama, itu yang paling memungkinkan karena mengingat kami semua mempunyai buku-buku bacaan. Kedua, anak-anak di pengungsian tidak bisa lagi masuk sekolah padahal mereka pun masih tetap butuh asupan pengetahuan pada saat di lokasi pengungsian. Ketiga, untuk kebutuhan pokok seperti pangan dan sandang sudah banyak dicover oleh relawan-relawan lain.

Maka, akhirnya perpustakaan keliling menjadi pilihan. Hanya bermodalkan buku-buku bacaan yang kami punya, kami membuka perpustakaan di tempat-tempat pengungsian di sekitar Kabupaten Sleman dan Magelang.

Awalnya hanya perpustakaan keliling, kemudian ditambah kegiatan trauma healing berupa permainan-permainan edukatif bagi anak-anak. Setelah kegiatan ini berjalan beberapa hari, kami menyadari bahwa situasi Merapi belum bisa diprediksi kapan akan membaik. Ini berarti belum bisa dipastikan kapan anak-anak akan bisa kembali ke rumah dan memulai lagi aktivitas belajar di sekolah.

bermain dan belajar bersama di dalam tenda pengungsian


Oleh sebab itu, kami merasa perlu untuk memberi pelajaran tambahan bagi mereka di lokasi pengungsian. Maka, sejak itu kami menamai kegiatan kami menjadi “Sekolah Darurat Merapi”. Semua mengalir begitu saja. Semakin hari, semakin banyak ide-ide kreatif muncul dari teman-teman untuk membuat kegiatan ini semakin menarik dan tentu saja bermanfaat bagi anak-anak di pengungsian. Dan tidak hanya itu saja karena ternyata semakin banyak teman yang bergabung bersama kami menjadi relawan yang berkeliling ke pusat-pusat pengungsian.

trauma healing untuk adik-adik di pengungsian Desa Keningar

trauma healing untuk adik-adik di pengungsian Desa Keningar



“Selalu ada jalan untuk setiap niat baik”. Itu hikmah yang kami peroleh. Selama kegiatan ini kami jalankan, selalu saja ada tangan-tangan tak terlihat yang membuat kegiatan kami tetap berjalan. Satu hal yang tak bisa kami lupakan adalah saat kebun binatang Gembira Loka Jogja memberi kesempatan kepada anak-anak pengungsi untuk berwisata ke sana dengan cuma-cuma. Kami segera menyambut tawaran itu.

Maka, kami merencanakan perjalanan wisata bagi anak-anak di pengungsian desa Borobudur, Magelang. Seketika itu pula, ada relawan yang menyumbang dana untuk menyewa bus yang akan kami gunakan dari Magelang sampai Gembira Loka. Selain itu, ada juga relawan yang mau menyediakan konsumsi bagi anak-anak selama perjalanan wisata itu.

Dan hari yang direncanakan itu pun tiba. Anak-anak berangkat dengan penuh semangat dan antusiasme. Sepanjang perjalanan kami bernyayi dan bertepuk-tepuk semangat. Sesampainya di lokasi yang kami tuju, anak-anak bersemangat melihat-lihat berbagai macam hewan di Gembiraloka.

Sesekali mereka bertanya, tertawa, berlari-lari saat melihat ada hewan yang menarik perhatian mereka. Sungguh, melihat tawa mereka adalah kebahagiaan yang luar biasa bagi kami.