Sekilas Membekas KKN Watukamba

Book For Mountain Perpustakaan

Kegiatan KKN merupakan sebuah program pengabdian yang dilakukan oleh kampus Universitas Gadjah Mada kepada masyarakat di berbagai pelosok Indonesia. Unit KKN-PPM UGM NTT 04 berlokasi di desa Watukamba, kecamatan Maurole, Ende, Nusa Tenggara Barat dengan tema program utama mitigasi bencana kepada masyarakat dan program-program kemasyarakatan lainnya dari berbagai kluster seperti kluster sains teknik yang berfokus pada pembangunan fisik serta pendataan dan pembuatan peta, kluster sosio humaniora berfokus pada sosial masyarakat terutama kegiatan kepemudaan, olahraga dan berbagai kegiatan di sekolahan, kluster agro yang berfokus pada kegiatan pertanian dan perikanan serta kluster medika atau kesehatan yang kegiatannya berfokus pada praktek & edukasi kesehatan masyarakat. Program KKN yang kami lakukan ini dimulai dari tanggal 20 Juni hingga tanggal 7 Agustus 2016 atau kurang lebih selama 49 hari lamanya. 

KKN yang kami lakukan bisa dibilang cukup memuaskan karena mayoritas program yang terlaksana dengan lancar, hambatannya hanya berupa akses yang kurang terutama transportasi dan jaringan, serta keterbatasan air yang digunakan sehari-hari Desa Watukamba merupakan daerah pesisir pantai yang letaknya cukup jauh dari kabupaten Ende, untuk menuju ke kabupaten Ende diperlukan perjalanan selama 3 jam menggunakan kendaraan. Di desa ini terdapat 4 buah dusun yaitu dusun Nanganio, Aeptu, Wolosambi dan Watukamba dari keempat desa itu hanya dusun Watukamba yang terletak di perbukitan. Karena letaknya yang berada di pesisir pantai hal ini berdampak pada jenis mata pencaharian utama masyarakat desa Watukamba, yaitu bertani atau berkebun di ladang dan nelayan. 



Masyarakat desa Watukamba mayoritas berkulit hitam seperti orang-orang NTT pada umumnya, mereka menggunakan bahasa daerah yang biasanya diucapkan dengan nada dan intonasi yang cukup tinggi sehingga terkesan menakutkan, akan tetapi sebenarnya mereka adalah orang yang ramah dan mudah bergaul. Masyarakat desa Watukamba juga masih cukup kental adatnya, terdapat hirarki kepengurusan adat seperti adanya kepemilikan lahan nenek moyang, pengurus adat, upacara adat terutama saat musim panen dan tanam, serta upacara lainnya. Masyarakat disana juga meyakini banyak sekali mitos, tempat yang dianggap sacral dan angker serta banyak sekali pamali yang sangat tidak dianjurkan bahkan dilarang keras karena dapat menyebabkan kematian seseorang. Kami juga melakukan kegiatan di dua buah SD dan satu PAUD, yaitu SD Impres Nanganio, SDK Watukamba dan PAUD Seko Sodo. Kegiatan yang dilakukan di sekolah utamanya adalah mengajar, dan kegiatan lainnya seperti sosialisasi mitigasi bencana, pembuatan kantin kejujuran, kelas menari, kelas keterampilan, kelas komputer, kelas kesehatan, kelas pertanian, dan revitalisasi perpustakaan. Untuk revitalisasi perpustakaan, ada 2 kegiatan yang dilakukan yaitu pengarsipan buku di SD Impres Nanganio dan donasi buku di SDK Watukamba yang bermitrakan dengan Book For Mountain. 

Siswa-siswa di desa Watukamba bisa dibilang lebih mandiri daripada siswa SD di Jawa, mengapa kami bilang begitu? Karena disini kami menemui beberapa siswa yang sering ikut berjualan di kantin sekolah ketika jam istirahat untuk membantu keuangan keluarganya dan bahkan masih berjualan di sore hari seperti menjual ikan atau kue dengan berjalan kaki keliling desa, untuk ke sekolah pun mereka sering jalan kaki dengan jarak yang cukup jauh serta memiliki fasilitas sekolah yang agak kurang, terutama SDK Watukamba yang bangunanya sudah reyot terpelosok di perbukitan dan susah akses listrik maupun jaringan telepon.