Agandugume Bercerita

“Disini ini semua mahal, yang murah ya hanya nyawa,” ungkap salah satu warga di Distrik Sinak (Distrik terdekat dengan Agandugume).

Tiga bulan mencari tiket pesawat dari Timika menuju Agandugume dan tidak mendapatkan hasil, keempat volunteer Book For Mountain Wiwin, Sholeh, Yudha, dan Nathan akhirnya memilih rute perjalanan darat melalui Desa Sinak. Membawa asa untuk anak-anak di puncak Agandugume di pundak mereka berempat tidaklah ringan karena meski semua sudah direncanakan baik dari buku, materi belajar dan bermain, volunteer, perizinan, transportasi, hingga masalah pembiayaan tapi toh ke depan mereka harus menghadapi kenyataan yang tidak terduga sebelumnya.



Dalam misi kali ini di Agandugume, Book For Mountain akan membuat perpustakaan serta membuat Walipini (penanaman bawah tanah tahan cuaca dingin) di desa tertinggi di Indonesia yang teletak di Puncak Jaya Papua. Berjalin informasi dengan Pak Yudi salah satu guru yang mengabdi di Agandagume, guru yang berasal dari Jawa Barat ini sangat mengharapkan adanya perbaikan melalui pendidikan. “Segala yang teman-teman pernah bayangkan tentang daerah tertinggal, disini keadaanya jauh lebih parah,” tulis Pak Yudi di pesan singkat pertamanya kepada teman-teman BFM.

Tidak heran mengapa Agandugume masih sangat tertinggal, akses menuju wilayah tersebut sangatlah terbatas, pilihanya cuma dua antara naik pesawat Perintis seharga 35 juta rupiah sekali jalan atau berjalan kaki naik turun gunung selama dua hari belum lagi kondisi cuaca yang kerap kurang ramah seperti hujan beku yang menjadi penyebab gagal panen di wilayah itu. Maka misi BFM kali ini membawa harapan besar bagi banyak pihak yang terlibat untuk pendidikan anak-anak dan pemberdayaan pertanian di Agandugume.

Kami Tiba di Sinak
Sampainya keempat volunteer BFM di Sinak pada 31 Maret 2017 semakin dekat harapan misi ini untuk tersalurkan, dari desa ini kurang lebih satu sampai dua hari perjalanan kaki menuju puncak untuk bisa sampai di Agandugume. Jika sesuai perencanaan mereka berempat akan segera dijemput oleh guru serta anak-anak Agandugume yang akan turun ke Distrik Sinak, mereka menginap sementara di rumah pasangan Guru Pak Alfred dan Bu Haryati. Namun sudah dua hari jemputan tidak kunjung datang, ada kemungkinan dikarenakan cuaca yang kurang bagus. Keterbatasan akses komunikasi antara mereka berempat dengan warga Agandugume sangat menyiksa dan membuat gelisah, sehingga keempat volunteer ini kemudian memantapkan diri untuk menghadapi tantangan cuaca, berhenti menunggu dan memutuskan akan berangkat pada keesokan hari tepatnya pada 3 April 2017. Dibantu bapak Leo yang selalu mendampingi mereka, bapak yang juga guru ini mengantar mereka menemui warga untuk menyampaikan niatan mereka ke Agandugume dan beruntung ada satu warga yang rela membantu membawa barang meski tanpa dibayar sepeserpun.
Distrik Sinak

Dalam Ketidakpastian
Pada hari yang ditunggu-tunggu rupanya misi ini kembali menemui hambatan, muncul masalah yang jauh lebih sulit dihadapi dibandingkan cuaca buruk. Masih ada konflik internal di daerah Papua yang kebetulan sedang memanas di waktu mereka merencanakan untuk berangkat. Terlebih lagi di malam hari terdengar suara ledakan senjata di sekitar pedesaan dan warga yang akan mengantar mereka berempat tidak berani mengantar karena jalur Sinak-Agandugume menjadi sangat rawan. Meski sangat ketakutan, mereka berempat bertahan di Distrik Sinak sambil menunggu situasi memungkinkan dan mencari alternatif penerbangan ke Timika lalu dari Timika ke Agandugume yang ternyata tiket penerbangan tidak kunjung didapat.

Setelah delapan hari bertahan tanpa kepastian waktu karena rute darat masih berbahaya, keempat volunteer dengan tidak berdaya memutuskan untuk meninggalkan Distrik Sinak. Tepatnya 11 April 2017 mereka pulang ke Yogyakarta dengan kecil harapan dari penjelasan warga bahwa entah Mei, Juni, atau sewaktu-waktu baik Pak Yudi maupun murid-murid Agandugume pasti akan turun mengambil barang-barang kiriman BFM jika situasi sudah aman. “Jika dikarenakan cuaca buruk kami akan hadapi mengingat janji misi ini, namun adanya konflik ini terlalu berisiko baik bagi nyawa kami maupun bagi orang asli desa yang menemani kami,” ujar Sholeh.

Dalam keadaan ketidak pastian untuk dapat naik ke Agandugume, tim volunteer pun berinisiatif untuk tak tinggal diam saja. Penjelasan detail mengenai pengelolaan perpustakaan, level baca dan walipini kepada Pak Leo. Tim juga mempersiapkan video mengenai materi materi terkait project pembangunan perpustakaan dan walipini. Harapannya project dapat tetap dilaksanakan walaupun tanpa dampingan volunteer.




Beban mereka bertambah karena kemudian mereka harus menjelaskan kondisi yang tidak langsung dialami oleh semua pihak. Apakah yang harus mereka jelaskan pada teman-teman di BFM yang sudah jauh hari mempersiapkan semua? Dan bagaimana kemudian BFM harus menjelaskan pada semua pihak yang sudah mempercayai mereka dalam misi ini? Dan bagaimana kondisi sebenarnya teman-teman guru dan anak-anak murid di Desa Agandugume?

Bahwa mereka kurang berusaha masih terpikirkan oleh keempat volunteer BFM dalam misi Agandugume dengan penuh sesal, meski memang mereka tidak berdaya dengan kondisi keamanan disana. Ditambah lagi kekhawatiran mereka pada kondisi teman-teman di wilayah yang terpaksa mereka tinggalkan karena sedang rawan dan penuh ketidak pastian. Akan sulit dibayangkan dengan kita yang mudah berkomunikasi, sangat mudah memberi kabar jika ada masalah. Tidak adanya kabar dari Agandugume sangat mungkin diartikan kondisi tak kunjung aman, dan tentunya misi bantuan yang disalurkan melalui BFM belum tersampaikan.

Kabar Baik dan Harapan
Sebulan berlalu tepat di hari Jumat 12 Mei 2017 ada kabar dari Pak Yudi, guru yang sudah mengabdi selama 2 Tahun di Agandugume ini memberi kabar yang cukup mengerikan namun untungnya semua kini membaik. Rupanya Pak Yudi dan murid-murid tidak kunjung turun ke Desa Sinak karena mereka juga tidak aman jika melakukan perjalanan ditengah konflik, sesekali bahkan pihak yang berkonflik naik ke Desa Agandugume. Namun setelah kondisi mulai aman segera Pak Yudi dan anak didiknya turun ke Desa Sinak dan mengambil semua paket yang sudah dikemas kecil-kecil oleh Sholeh, Wiwin, Yudha, dan Nathan sebelum mereka pulang agar mudah dibawa oleh anak-anak. Kini perpustakaan sudah ditata rapi dan dihias oleh warga Agandugume, dan jika cuaca sudah pasti cerah mereka akan segera membuat walipin yang panduannya sudah dibuatkan video oleh Sholeh dan kawan-kawan sebelumnya.
Menghias Perpustakaan

Buku-buku untuk perpustakaan Agandugume

Meski ada kekecewaan tidak dapat bertemu dengan relawan BFM, menurut Pak Yudi anak-anak sangat senang dengan semua buku dan peralatan baru yang mereka punya. “Anak-anak semangat hias, semangat baca saat saya suruh eh malah mereka setelah itu pada lari mau bawa buku ke rumahnya masing-masing, kita pun sudah bisa menerapkan tradisi baca buku 15 menit berkat bantuan buku dari BFM,” ucap Pak Yudi di pesan whatsappnya.


















Terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Indmira, Ayang Cempaka, Buku untuk Flores, K- Runners, SMP-SMA Budi Mulia Dua, Impian Studio, Rabbit Hole, Buletin Ceria, litara, @watiekideo serta para donatur yang telah membantu. Mohon maaf karena kami tidak dapat menjalankan amanah sebagaimana yang diharapkan.