Cerita Akas Arif


Masih ingatkah dengan Akas dan Arif?


Tim Book For Mountain dipertemukan dengan kedua bocah Tengger Bromo ini tujuh tahun lalu melalui program pembangunan perpustakaan di desa mereka, Desa Ngadirejo. Akas dikenal sebagai si seniman serba bisa dan Arif si juara kelas.
Selepas SD, mereka berdua melanjutkan sekolah di SMP Satu Atap Ngadirejo. Semangat belajar dan keinginan bersekolah yang sangat tinggi ternyata tidak sejalan dengan kemampuan ekonomi keluarga mereka, sehingga Akas dan Arif waktu itu terancam tidak dapat bersekolah SMA.
Hubungan sangat dekat seperti layaknya keluarga dengan masyarakat Ngadirejo membawa kami mengadakan penggalangan dana bertajuk #MajuTerusAkasdanArif, tujuannya agar Akas dan Arif bisa melanjutkan sekolah dan lalu bekerjasama membangun desanya.

Melalui program #MajuTerusAkasdanArif dibantu oleh penjualan merchandise berkolaborasi dengan ilustrator @monsterbuaya, kami berhasil mengumpulkan dana sebesar 16 juta rupiah yang direncanakan akan dialokasikan untuk tuition fee, dana sumbangan fasilitas sekolah, pembelian buku bacaan, dsb.

Setelah siap melakukan pendaftaran di SMK Pariwisata Ngadisari (satu-satunya program SMK yang ada di sana), Ibu Akas tiba-tiba menarik kembali ijinnya. Akas tidak boleh bersekolah. Nenek dan Ibu Akas mulai sakit-sakitan dan Akas sebagai anak tunggal diharapkan untuk menjadi tulang punggung ekonomi keluarga. "Kalau Akas sekolah, kami makan apa?" secara retorik terus dipertanyakan ke tim kami. Ya, waktu yang dihabiskan Akas di sekolah bisa digunakan dengan bekerja serabutan untuk menghidupi dirinya, ibu, dan neneknya.

Melalui proses diskusi yang panjang, sampailah kami pada pemahaman bahwa belajar tidak melulu harus terjadi di dalam ruang kelas sekolah dan untuk membangun desa juga tidak melulu harus memiliki ijazah. Belajar bisa dimana saja dan melalui medium apa saja.
Akas pun memutuskan untuk bekerja. Di tahun pertama dan kedua, ia menjadi joki kuda di Bromo dan di tahun ketiga, dengan uang tabungannya ia membeli beberapa petak ladang dan lalu memutuskan untuk menjadi petani. Sembari bekerja menghidupi keluarga, Akas menginisiasi untuk menghidupkan kembali paguyuban kesenian Desa Ngadirejo yang sudah mati suri selama belasan tahun.


Melalui paguyuban ini, Akas mengajak serta generasi muda desa untuk turut ikut melestarikan budaya Tengger. Paguyuban ini pun menjadi wadah Akas untuk belajar memimpin, berkomunikasi interpersonal, time-management, budgeting, sekaligus berkesenian. Hingga saat ini, paguyuban Desa Ngadirejo telah tampil berkeliling di Kabupaten Probolinggo.
April kemarin, kami pun bertandang kembali ke desa Ngadirejo untuk mendiskusikan pilihan aktivitas Arif selepas lulus SMK. Tidak ingin hanya berkutat menjadi buruh di hotel-hotel Bromo, Arif ingin berkontribusi terhadap kemajuan desanya. Maka, bersama dengan Akas dan pemuda-pemuda lainnya, kami berusaha mengidentifikasi potensi dan memetakan permasalahan desa Ngadirejo.

Mengantisipasi dampak pariwisata Bromo yang mau tidak mau akan sampai ke Desa Ngadirejo, para pemuda ini berencana membentuk program desa wisata yang bertanggung jawab yang menekankan aktivitasnya pada kesenian dan juga menambah nilai komoditas pertanian warga (seperti kentang, tomat, jagung, dan kubis) melalui bermacam-macam produk olahan.


Di bulan Mei nanti, Akas, Arif, dan pemuda lainnya akan mengunjungi Jogja, mencoba menjadi turis sekaligus belajar selama 1-2 minggu. Tiga hari nanti akan kami habiskan dengan belajar di Desa Wisata Nglanggeran, sisanya kami ingin sekali belajar mengolah hasil pertanian. Ada saran kemana saja kami harus belajar?